IndoCerpen Sites

Keluarga

Kisah hangat kehidupan Keluarga

    (Page 1 of 4)   
    « Prev
      
    1
      2  3  4  Next »

    Anak SD Dermawan

    Seorang nenek tua yang sudah renta menawarkan dagangannya, kue tradisional. Satu kantong plastik dibandrol dengan harga Rp 5.000. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena merasa iba, dan Aku tak tega melihat kondisinya yang sudah tua renta untuk berjualan, seolah batinku rasanya tersentuh untuk membeli dagangannya, dan akhirnya Aku membeli satu plastik.

    Sepotong Hati yang Mengharukan

    Aku hanya menatap wajah kakek penuh dengan kebingungan.
    “ kamu kenapa sayang??” tanya kakek tersenyum.
    “ aku hanya bingung, bukankah tadi kakek minta ditemani untuk membeli kado tetapi mengapa sekarang kita malah ke tempat ini?” ucapku.
    Kakek hanya membalas dengan senyuman.
    Setelah membeli setangkai mawar putih dan taburan bunga, kami beranjak pergi dari toko bunga itu.
    “ sebenarnya seseorang yang sedang berulang tahun pada hari ini siapa kek? Mengapa kado yang kakek berikan begitu romantis?”
    “ yang pasti untuk seseorang yang romantis juga.” Ucap kakek singkat dan senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya.
    “ ehm.... aku tahu, pasti taburan bunga – bunga itu akan kakek sebar di depan rumahnya dan setelah itu, kakek akan mengetuk pintu rumahnya dan memberikan mawar putih ini, iya kan?” ucapku meledek.

    Segelas Air Untuk Guruku

    Anis berlari mengendap-endap kedalam kelas. Sekolah masih sepi, belum seorang pun siswa datang. Seperti kemarin juga, kemarinnya lagi Anis meletakkan segelas air putih ke meja ibu guru, setelah itu ia kembali berlari keluar. Anis kembali ke warung kecil ibunya yang terletak dibelakang sekolah.

    "Kau dari mana, Nak?" Tanya ibunya ketika Anis tiba.

    "Mmm.. Anis dari kelas sebentar" Jawab Anis sambil kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.

    Sebelum sekolah, Anis memang terbiasa membantu ibunya menyiapkan dagangan di warung kecil mereka.

    Maafin Bella, Yah...

    Seperti biasanya, sepulang dari sekolah, Bela mengajak beberapa temannya untuk mampir ke rumahnya. Mereka pun langsung masuk ke dalam kamar Bella tanpa menemui Ayah Bela yang sedang terbaring lemas di ranjang. Lalu, Bella memilih kaset dan memasukkannya ke dalam tape radio serta menyetelnya dengan suara yang cukup keras. Mereka sangat menikmati musik tersebut tanpa mempedulikan ayah Bella yang sedang sakit. Karena tak tahan dengan kelakuan Bella dan teman-temanya, Ganis, kakak Bella pun keluar dari kamar ayahnya dan menuju ke kamar adiknya itu. Pintu kamar yang tak terkunci itu pun langsung didorongnya dengan wajah kesal.

    Mimpi Itu

    Marsia tak pernah merasakan malammalam yang dipenuhi dengan kebahagiaan dengan suaminya. Entah kenapa, semenjak anak pertamanya lahir, kecintaan pada suaminya sedikit demi sedikit menghilang. Menipis bagaikan awan tersisih oleh angin malam yang kadangkadang datang bersama hujan. Hujan yang tak selamanya menumbuhkan tumbuhan. Menyuburkan tanaman. Menghidupkan yang mati sebagaimana fungsi yang telah diberikan.

    Jangan Tangisi Aku

    Alya masih terbaring, memeluk boneka kesayangannya. Terbesit difikirannya untuk menengok keluar jendela. Ia berkata: "Seharusnya aku seperti mereka!" Ia menatap anak-anak seusianya pergi bersekolah. Sudah hampir setengah tahun Alya tidak masuk sekolah, saat itu ia masih duduk di Kelas 1 SD. Karna penyakitnya yang tak kunjung sembuh, menghambatnya untuk kembali bersekolah.

    Hari ini Alya dan kedua orang tuanya pindah rumah ke kampung, tempat dimana kakek dan neneknya tinggal. Alya memulai suasana hidup yang berbeda di sana, ia mulai bersekolah kembali dan langsung duduk di Kelas 2 SD.
    Selang 3 bulan, Alya merasa ada keganjalan di tengah-tengah keluarganya, suara tangisan, teriakan, piring yang berjatuhan. Semua itu sering kali ia dengar, orang tuanya sering sekali bertengkar, hingga ayahnya pergi meninggalkan Alya dan mamahnya.

    Kisah Sebuah keluarga - Kompasiana

    Kumis tebal, kain sarung. Tegar dan penuh semangat. Grapyak dan semedulur. Jadi pegawai karena pinter main bola setingkat kecamatan. Asap rokok selalu membumbung di dekatnya. Kalau sedang bekerja bisa lupa waktu. Membersihkan rumput di sekeliling rumah, membuat atap kamar mandi, membuat kandang ayam, dan lain-lain. Tidak pernah bermalas-malasan. Paling-paling kalau masuk angin dan batuk-batuk. Minta dibuatkan wedang asem merah atau wedang jahe. Meringkuk di amben sambil kerodong sarung. Itulah bapakku.
    Malam yang sungguh indah. Banyak bintang bertaburan di langit, angin yang segar, langit yang indah sungguh melengkapi malam ini. Tapi ada yang terasa hilang, sungguh sangat terasa. Yaitu kedua orang tua ku, mereka tak berada disisi ku. Mereka terlalu sibuk dengan ego mereka, mereka tak pernah memperhatikan aku dan Kakak. Mereka selalu bertengkar setiap hari, entah apa yang mereka pertengkarkan. Kakak selalu melarangku bertanya apa yang selalu di pertengkarkan mereaka. Kakak selalu berkata,

    Kisah Nyata: Akibat dari Prasangka Negatif

    Seorang janda miskin Siu Lan punya anak berumur 7 tahun yang bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue di pasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

    Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.

    Berbagi Cinta

    Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya? Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materialistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari Ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.
    (Page 1 of 4)   
    « Prev
      
    1
      2  3  4  Next »

    Popular Authors

    No popular authors found.
    No popular articles found.